Skip to main content

Anda Harus tau jenis - jenis Vaksin C-19 agar tidak mengakibatkan celaka! Apa saja jenis vaksin tersebut?




1. Moderna

Penerima vaksin Moderna ini juga harus mendapatkan pantauan khusus untuk menghindari adanya hal buruk yang bisa saja terjadi. Orang dengan imunokompromais, termasuk individu yang menerima terapi imunosupresif, mungkin memiliki respons yang kurang terhadap Vaksin Moderna Covid-19.

Selain itu, tidak ada data yang cukup memadai mengenai keamanan dan efektivitas vaksin ini terhadap ibu hamil dan menyusui. Saat ini, vaksin booster dari Moderna ini hanya diberikan kepada tenaga kesehatan saja karena jumlah stok vaksin yang masih terbatas di Indonesia.

Demikianlah informasi dan efek samping vaksin Covid-19 Moderna yang biasa terjadi. Ingat, tetap patuhi protokol kesehatan meski sudah mendapatkan vaksin Covid-19.

Hasil uji klinis juga membuktikan bahwa efek samping vaksin Covid-19 Moderna yang dihasilkan dari vaksin booster ini umumnya bisa ditoleransi dengan baik. Sebagian besar efek samping vaksin Covid-19 moderna yang terjadi bisa berupa efek ringan hingga sedang.

Efek samping lokal vaksin Covid-19 Moderna yang paling umum terjadi adalah nyeri tempat suntikan. Selain itu, efek samping vaksin Covid-19 Moderna yang bisa dirasakan penerima vaksin dosis ketiga ini adalah lelahan, sakit kepala, mialgia, dan artralgia atau nyeri sendi.

Vaksin Covid-19 Moderna yang akan dipakai sebagai booster adalah mRNA-1273 dengan penyuntikan yang dilakukan secara intramuskular dengan dosis 0,5 ml sebanyak 1 dosis. Berdasarkan data dari MOderna, INC, dosis tunggal mRNA-1273 atau mRNA-1273.351 dosis 50 gram bisa diberikan sebagai booster untuk individu yang sebelumnya divaksinasi.

Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan respons titer antibodi penetralisir terhadap SARS-CoV-2 dan dua varian yang menjadi perhatian yaitu B.1.351 (pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan) dan P.1 (pertama kali diidentifikasi di Brasil).

Jumlah vaksin Covid-19 Moderna yang diterima Indonesia sangat terbatas, hanya sekitar 4,5 juta dosis. Oleh karena itu penggunaan vaksin Covid-19 Moderna diprioritaskan untuk tenaga kesehatan.

Disisi lain, kasus positif Covid-19 pada tenaga kesehatan yang telah mendapatkan vaksin dosis kedua masih terus terjadi. Selain itu, penyebaran COVID-19 di hampir seluruh provinsi semakin meluas. Atas dasar hal tersebut, pemerintah mencanangkan adanya vaksin Covid-19 dosis ketiga bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang merupakan kelompok risiko tinggi.

Pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga bagi tenaga kesehatan juga telah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau ITAGI. Hal tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukan dan disampaikan kepada Kementerian Kesehatan pada tanggal 8 Juli 2021.

Jenis vaksin Covid-19 yang akan digunakan sebagai booster atau dosis ketiga ini adalah vaksin Moderna. Lalu apa beda vaksin Covid-19 Moderna dengan vaksin Covid-19 lainnya? Apa efek samping vaksin Covid-19 Moderna?

Mulai 17 Agustus 2021, DKI Jakarta mulai menyuntikkan vaksin Moderna untuk umum alias non nakes (tenaga kesehatan). Ada 100.030 warga dengan kriteria tertentu yang akan mendapatkannya.

Masing-masing akan mendapat 2 dosis dengan interval pemberian selama 28 hari. Total vaksin berbasis mRNA yang akan diberikan sebanyak 200.060 dosis. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menegaskan vaksin moderna diberikan pada warga yang belum pernah mendapat vaksinasi COVID-19 dosis 1 maupun dosis 2. Dengan demikian, tidak ada booster atau suntikan dosis 3 untuk non nakes.


"Vaksin COVID-19 Moderna diberikan untuk masyarakat yang tidak dapat menggunakan vaksin AstraZeneca dan Sinovac berdasarkan surat keterangan dokter yang berpraktik di fasilitas kesehatan (FKTP/FKRTL) mana pun (tidak harus BPJS) dan surat tersebut diarsipkan oleh fasilitas kesehatan penyuntik," kata dr Widyastuti dalam siaran pers.

"Perlu kami tekankan bahwa tidak ada vaksin Moderna booster dosis 3 untuk masyarakat umum, selain untuk SDM Kesehatan," tegasnya.

Selain itu, vaksin COVID-19 Moderna juga hanya diberikan pada pemilik KTP DKI atau yang berdomisili di DKI dengan bukti surat domisili minimal dari RT. Bagi yang memiliki riwayat penyakit tertentu, diwajibkan melakukan pemeriksaan penunjang.



Lokasi penyuntikan vaksin Moderna adalah sebagai berikut:

Jakarta Pusat

* RSUP Cipto Mangunkusumo RSPAD Gatot Subroto RSUD Tarakan
* RS St. Carolus
* RS Abdi Waluyo
* PPKP Balai Kota DKI Jakarta
* Pusat Pelayanan Kesehatan Pegawai Puskesmas Kecamatan Menteng

Jakarta Utara

* RSUD Koja RSUD Cilincing
* RSUD Pademangan
* RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok

Jakarta Barat

* RS Dharmais
* RSUD Cengkareng
* RSUD Taman Sari
* RSUD Kalideres
* RS Pelni
* Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan

Jakarta Selatan

* RSUP Fatmawati
* RSUD Pasar Minggu
* RSUD Pesanggrahan
* RSUD Mampang Prapatan
* RS Mayapada Lebak Bulus
* RS Pondok Indah
* RS Medistra
* RS MMC
* RSIA Brawijaya
* Puskesmas Kecamatan Setiabudi

Jakarta Timur

* RS Polri Said Sukamto
* RSUD Budhi Asih
* RSUD Pasar Rebo
* RSU Adhyaksa
* RSUD Kramat Jati
* RS Antam Medika
* Puskesmas Kecamatan Kramat Jati

Pemerintah Indonesia telah menerima hibah vaksin COVID-19 Moderna dari Covax Facility sebanyak 8 juta dosis. Vaksin COVID-19 ini sudah mulai diberikan kepada tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga penunjang kesehatan sebagai vaksin dosis ketiga. Peningkatan kasus terkonfirmasi COVID-19 yang tinggi mendorong Pemerintah untuk secara khusus memberikan perlindungan tambahan kepada nakes yang sehari-hari dihadapkan dengan risiko tinggi penularan COVID-19.

Pemberian vaksinasi dosis ketiga bagi nakes ini juga telah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau ITAGI berdasarkan hasil kajian yang dilakukan dan disampaikan kepada Kementerian Kesehatan melalui surat nomor 71/ITAGI/Adm/VII/2021 tanggal 8 Juli 2021.

Selain untuk vaksinasi dosis ketiga bagi nakes, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga telah mengeluarkan kebijakan bahwa vaksin COVID-19 Moderna diberikan kepada peserta yang belum pernah mendapatkan vaksinasi COVID-19.

“Kami menghimbau kepada pemerintah daerah untuk memberikan vaksin merek Moderna sebagai dosis ketiga hanya kepada nakes. Selain untuk nakes, vaksin COVID-19 Moderna juga diperuntukkan bagi publik, khususnya ibu hamil dan masyarakat yang memiliki komorbid, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi sama sekali,” terang dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI.

Pada Surat Edaran HK.02.01/I/ 1919 /2021, Kemenkes menjelaskan bahwa vaksinasi dosis ketiga bagi nakes dapat menggunakan vaksin dengan platform yang sama (Sinovac) atau platform yang berbeda (Moderna), dengan interval minimal pemberian vaksinasi dosis ketiga adalah 3 bulan setelah dosis kedua diberikan.

Khusus bagi masyarakat yang belum pernah menerima vaksinasi, vaksin COVID-19 Moderna diberikan sebanyak 2 (dua) dosis dengan interval 4 minggu, sehingga vaksin yang dialokasikan pada minggu ke 2 Agustus 2021 ini untuk memenuhi kebutuhan 2 (dua) dosis sekaligus.

Sementara itu, vaksinasi bagi ibu hamil yang dimulai per 2 Agustus 2021 itu direkomendasikan untuk ibu hamil dengan prioritas pada daerah risiko tinggi. Vaksin yang direkomendasikan selain Moderna adalah Pfizer dan Sinovac sesuai ketersediaan. Untuk pemberian dosis satu vaksinasi COVID-19 bagi ibu hamil dimulai pada trimester kedua kehamilan, dan untuk pemberian dosis kedua dilakukan sesuai dengan interval dari jenis vaksin yang diberikan. Misalnya untuk vaksin merek Moderna, interval dosis 1 dan 2 adalah 4 minggu.

2. Astrazeneca

Jutaan dosis vaksin COVID-19 telah didistribusikan ke masyarakat secara bertahap. Vaksin Sinovac dan AstraZeneca merupakan dua vaksin yang telah diberikan ke kelompok prioritas, mulai dari lansia hingga tenaga kesehatan.

Meski memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi tubuh dari paparan virus Corona, ada beberapa perbedaan vaksin AstraZeneca dengan Sinovac.

Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac

Perbedaan paling mendasar dari vaksin AstraZeneca dan Sinovac adalah kandungannya. Vaksin Sinovac menggunakan virus tidak aktif (inactivated virus), sedangkan vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse.

Di samping kandungannya, perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac juga ada pada beberapa hal lainnya, yaitu:

1. Jadwal pemberian vaksin

Perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac adalah pada jadwal pemberian vaksin dosis pertama dan kedua. Untuk AstraZeneca, jaraknya adalah 8–12 minggu, sedangkan Sinovac jaraknya 2–4 minggu.

Meski demikian, dosis yang direkomendasikan oleh WHO untuk kedua vaksin ini adalah sama, yaitu 0,5 ml untuk setiap kali suntik dan diberikan sebanyak 2 kali untuk setiap orang.

2. Penyimpanan dan distribusi vaksin

Untuk vaksin AstraZeneca, maksimal lamanya penyimpanan adalah 6 bulan di dalam lemari pendingin dengan suhu 2–8 derajat Celsius.

Jika dikeluarkan dari lemari pendingin, vaksin ini dapat bertahan pada suhu 2–25 derajat Celsius selama maksimal 6 jam. Vaksin ini tidak boleh dibekukan dan harus digunakan dalam waktu 6 jam setelah dibuka.

Sementara itu, vaksin Sinovac bisa disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 2–8 derajat Celsius dan dapat bertahan hingga 3 tahun. Vaksin ini juga harus terhindar dari paparan sinar matahari langsung.

3. Efektivitas vaksin

Perbedaan vaksin AstraZeneca dan vaksin Sinovac selanjutnya terletak pada nilai efikasi atau efektivitasnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa efektivitas vaksin AstraZeneca dalam mencegah COVID-19 adalah 76%, sedangkan vaksin Sinovac sebesar 56–65%.

Meskipun ada perbedaan dari segi efektivitasnya, baik vaksin AstraZeneca maupun Sinovac terbukti dapat menurunkan risiko munculnya gejala berat COVID-19, mencegah perburukan kondisi, dan mempersingkat durasi rawat inap apabila terinfeksi virus Corona.

Bila memang Anda terlambat vaksin dosis kedua, sehingga mungkin akan diberikan jenis vaksin COVID-19 yang berbeda dari dosis pertama Anda, sebaiknya pastikan dokter Anda mengetahuinya.

4. Efek samping vaksin

Efek samping vaksin AstraZeneca dan Sinovac secara umum sama, yaitu nyeri di lokasi suntikan. Selain itu, ada beberapa efek samping yang juga dapat muncul, yaitu:

-Rasa lelah

-Diare

-Nyeri otot

-Demam

-Sakit kepala

Efek samping ini bersifat ringan dan dapat hilang dalam 1–2 hari. Untuk mengatasinya, Anda dapat mengonsumsi paracetamol, ibuprofen, aspirin, atau antihistamin, sesuai efek samping yang dirasakan.

Namun, jangan mengonsumsi obat-obatan tersebut sebelum vaksinasi dengan tujuan untuk mencegah efek samping.

Meskipun jarang, bisa juga muncul beberapa efek samping vaksin yang tergolong berat, di antaranya:

-Peradangan di sekitar sumsum tulang belakang

-Anemia hemolitik

-Demam tinggi

Jika Anda mengalami efek samping berat setelah menerima vaksin COVID-19, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan.



Terlepas dari risiko terjadinya efek samping tersebut, vaksin AstraZeneca dan Sinovac telah dinyatakan memenuhi standar internasional oleh WHO, baik dalam proses pembuatan, keamanan, maupun efikasinya.

Oleh karena itu, jika Anda telah mendapatkan giliran untuk mendapat vaksin COVID-19, apa pun jenis vaksinnya, segeralah lakukan vaksinasi. Semakin cepat semua orang mendapatkan vaksin, semakin cepat pula pandemi ini usai.

Sambil menunggu jadwal vaksinasi maupun setelah vaksinasi, tetap terapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus Corona. Selalu kenakan masker saat di luar rumah, jaga jarak dengan orang lain, hindari kerumunan, rajin cuci tangan, serta jaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan beristirahat yang cukup.

Sebelum vaksinasi COVID-19, pastikan Anda memenuhi kriteria sebagai penerima vaksin. Untuk ibu hamil dan ibu menyusui, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan apakah Anda bisa menerima vaksin COVID-19 atau tidak, sesuai kondisi kesehatan Anda.

Baru-baru ini mencuat isu tentang vaksin AstraZeneca dibandingkan dengan vaksin Sinovac. Daripada bingung, kenali kelebihan dan kekurangan dari kedua vaksin.

Vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca memang memiliki banyak perbedaan, ya traveler. Termasuk, teknologi yang dipakai pun berbeda.

Meski begitu, kedua vaksin tersebut sudah terbukti menunjukkan efektivitas dalam melawan infeksi virus Corona COVID-19. Selain itu, aspek keamanannya pun telah dibuktikan dalam uji klinis.

Dari hasil uji klinis tahap 3 di Bandung, vaksin Siovac menunjukkan efikasi atau perkiraan efektivitas vaksin sebesar 65,3 persen dalam mencegah COVID-19. Persentase itu didapat berdasarkan uji coba kepada 1.600 orang di Bandung.

Berdasarkan laporan terbaru, vaksin AstraZeneca disebut 76 persen efektif dalam mencegah kasus COVID-19 bergejala. Selain itu, AstraZeneca juga menyebut vaksin Corona buatannya 100 persen efektif mencegah penyakit parah karena COVID-19 dan rawat inap.

3. Vaksin Sinovac

Sekretaris Eksekutif Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Dr dr Julitasari Sundoro, MSc-PH, mengatakan bahwa efek samping vaksin Sinovac tidaklah berbahaya dan masih bersifat ringan.

"Misalnya efek samping lokal. Jadi nyeri pada tempat suntikan. Kita kan namanya dimasukin jarum, dimasukkin vaksin, berarti ada reaksi lokal," kata dr Julitasari.

"Ada juga reaksi sistemik, misalnya pegal-pegal kemudian demam ringan. Tapi itu sangat kecil karena vaksin yang tiba ini adalah vaksin yang inactivated, vaksin yang mati. Jadi efek sampingnya itu jauh lebih kecil dari vaksin-vaksin lain yang live attenuated atau vaksin-vaksin hidup," dia menambahkan.

Vaksin AstraZeneca

Dikutip dari laman GOV.UK, sebagian besar efek samping yang dihasilkan dari vaksin AstraZeneca masih dalam kategori ringan-sedang. Di antaranya sebagai berikut.

Sangat umum (mempengaruhi lebih dari 1 dari 10 orang)

Nyeri, gatal, dan rasa panas di area suntikan
Merasa tidak enak badan
Menggigil atau demam
Sakit kepala
Mual
Nyeri sendi atau nyeri otot.

Umum (mempengaruhi 1 dari 10 orang)

Bengkak, kemerahan, dan benjolan di area suntikan
Demam
Muntah atau diare
Radang tenggorokan
Pilek atau batuk
Menggigil.

Jarang (mempengaruhi 1 dari 100 orang)

Nafsu makan menurun
Sakit perut
Kelenjar getah bening membesar
Keringat berlebih
Kulit gatal atau ruam.
Mana yang lebih diterima?

Mengutip WHO, ada sejumlah vaksin yang telah disertifikasi oleh badan kesehatan terbesar di dunia itu. Antara lain vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneza (2 vaksin), Johnson and Johnson, Sinopharm serta Sinovac yang awal Juni ini diakui untuk penggunaan darurat.

Hanya saja, tidak semua negara menerima orang yang divaksin Sinopharm atau Sinovac buatan China. Contohnya seperti Amerika dan sejumlah negara lainnya.

Sinovac

Sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan di Hong Kong mengamati kejadian lumpuh wajah sebelah atau Bell's Palsy usai menerima vaksin COVID-19. Mereka membandingkan kejadian Bell's palsy pada penerima vaksin Sinovac dan Pfizer.

Temuan mereka menunjukkan risiko Bell's palsy cenderung lebih tinggi pada penerima CoronaVac, vaksin COVID-19 buatan Sinovac. Studi ini diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet Infectious Disease.

Studi ini menemukan 28 kasus Bell's Palsy yang dikonfirmasi secara klinis setelah suntikan CoronaVac dilaporkan di antara hampir 452.000 penerima dosis pertama vaksin. Sementara itu 16 kasus setelah vaksin Pfizer-BioNtech terdeteksi dari lebih dari 537.000 orang. Mekanisme terjadinya Bell's palsy pada pasien setelah vaksinasi tidak jelas, penelitian tersebut mengakui, menyerukan penyelidikan lebih lanjut. "Bell's Palsy setelah vaksinasi jarang terjadi, dan sebagian besar gejalanya ringan dan membaik dengan sendirinya," kata perwakilan Sinovac Liu Peicheng dalam tanggapan tertulis dikutip dari Reuters, Rabu (18/8/2021).

Liu mengatakan Sinovac belum mendeteksi risiko Bell's Palsy dalam analisis data dari otoritas pengendalian penyakit China, Pusat Pemantauan Uppsala dari Organisasi Kesehatan Dunia, atau basis data unitnya untuk kejadian buruk setelah imunisasi.

"Menurut data saat ini, manfaat dan perlindungan CoronaVac jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi," kata Liu.

"Masyarakat harus divaksinasi penuh tepat waktu dengan CoronaVac untuk mencegah infeksi COVID-19 dan memblokir penularan virus," tutupnya.

Indonesia kembali menerima kedatangan vaksin COVID-19. Ada 5 juta dosis vaksin Sinovac yang tiba siang ini.

Kedatangan vaksin COVID-19 tahap 37 ini disiarkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (16/8/2021). Vaksin COVID-19 itu tiba di Bandar Soekarno-Hatta.

"Pada siang hari ini Indonesia kembali kedatangan vaksin COVID-19 sejumlah 5 juta dosis vaksin produksi Sinovac dalam bentuk jadi sehingga total jumlah vaksin yang datang ke Indonesia menjadi sekitar 190 juta dosis baik dalam bentuk bulk maupun vaksin jadi," kata Asisten Operasi Panglima TNI, Mayjen Syafruddin, dalam konferensi pers virtual, Senin (16/8/2021).

Syafruddin menegaskan kedatangan vaksin COVID-19 ini merupakan bukti upaya keras pemerintah dalam memenuhi kebutuhan vaksin nasional. Dia menjelaskan TNI-Polri pun terlibat dalam program vaksinasi nasional seperti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"TNI bersama Polri telah mendapatkan amanat langsung dari Bapak Presiden Joko Widodo untuk mendukung program penanganan COVID-19 termasuk program vaksinasi nasional. TNI telah melaksanakan vaksinasi melalui fasilitas kesehatan TNI di 803 rumah sakit dan fasilitas kesehatan tingkat pertama di seluruh Indonesia, melaksanakan serbuan vaksinasi melaksanakan vaksinasi mobile dan bekerja sama dengan pihak swasta," ujar Syafruddin.

Syafruddin juga menjelaskan program vaksinasi terus ditingkatkan dan diperluas. Di samping itu, dia juga mengingatkan pentingnya protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

"Memasuki Agustus 2021, program vaksinasi nasional semakin diperluas dan dipercepat dengan target 2 juta dosis per hari. Hingga hari ini lebih dari 53 juta orang telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, itu artinya sekitar 25 persen dari target atau sasaran vaksinasi yang berjumlah 208 juta penduduk Indonesia untuk bisa membangun herd immunity," ujar Syafruddin.

"Selain vaksinasi, yang tidak boleh dilupakan adalah disiplin pada protokol kesehatan dengan menjalankan protokol kesehatan terutama memakai masker dan mematuhi aturan pembatasan mobilitas yang ditetapkan pemerintah," sambung dia.

Vaksin Sinovac dan Pfizer untuk Covid-19 diduga sama-sama meningkatkan risiko penyakit lumpuh wajah atau bell's palsy. Namun penerima vaksin Sinovac lebih tinggi mendapatkan risiko penyakit tersebut dibandingkan Pfizer.

Dalam jurnal yang diterbitkan The Lancet Infectious Diseases, risiko meningkat setelah pemberian dosis pertama vaksin covid-19 Sinovac.



Meski terdapat efek samping, menurut jurnal tersebut, dampak menguntungkan vaksin dalam melindungi covid-19 lebih besar. "Efek yang menguntungkan dan protektif dari vaksin Covid-19 jauh lebih besar dibandingkan risiko efek samping yang umumnya sembuh sendiri ini," kata penelitian tersebut.

Studi dilakukan terhadap 451.000 orang lebih. Ada 28 kasus lumpuh wajah atau bell's palsy setelah pemberian vaksin Sinovac. Angkanya lebih tinggi dibandingkan pemberian vaksin Pfizer-BioNtech yaitu 16 kasus.

"Temuan kami menunjukkan peningkatan risiko bell's palsy secara keseluruhan setelah vaksinasi," menurut penelitian tersebut.

Penelitian yang dilakukan di Hong Kong menilai risiko efek samping muncul setelah 42 hari vaksinasi. Namun Sinovac belum memberi pernyataan atas temuan tersebut.

Pada awal tahun lalu, Israel juga melaporkan 13 orang mengalami lumpuh wajah usai disuntik vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Hal itu diklaim adalah efek samping dari vaksin. Namun lumpuh wajah tersebut termasuk kategori ringan dan mudah disembuhkan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah The Lancet Infectious Diseases menyebutkan, vaksin buatan Sinovac Biotech, Coronavac lebih berisiko menyebabkan Bell's palsy (lumpuh wajah) usai disuntikkan kepada penggunanya.

Situs Alodokter menyebutkan, Bell's palsy adalah kelumpuhan pada otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah tampak melorot. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba, namun biasanya tidak bersifat permanen.

Penelitian ini melibatkan 28 kasus Bell's Palsy yang dikonfirmasi secara klinis setelah suntikan CoronaVac Sinovac dilaporkan di antara hampir 452.000 orang yang menerima dosis pertama vaksin, dan 16 kasus setelah vaksin Pfizer/BioNtech terdeteksi dari lebih dari 537.000 orang.