Penyakit ini umumnya dialami oleh bayi yang baru
lahir. Namun, orang dewasa juga tidak luput dari serangan penyakit kuning. Pada
orang dewasa, sakit kuning juga sering dihubungkan dengan masalah liver
atau hati. Padahal, faktanya penyakit kuning begitu kompleks,
penyebabnya juga banyak.
Penyakit kuning bermula dari penumpukan bilirubin di
dalam darah dan jaringan tubuh lainnya. Bilirubin merupakan pigmen berwarna
kecokelatan yang ditemukan dalam empedu, darah, dan tinja semua orang.
Itulah sebabnya pengidap sakit kuning bisa mengalami
gejala berupa urine yang berwarna keruh (gelap) dan tinja yang berwarna pucat.
Pengertian Penyakit Kuning
Penyakit kuning atau sering juga dikatakan jaundice merupakan
suatu kondisi medis ketika terjadinya perubahan warna menjadi kekuningan pada
kulit, bagian putih dari mata, dan juga membran mukosa di dalam tubuh seseorang. Penyakit
kuning sendiri terjadi karena kadar bilirubin dalam sirkulasi darah seseorang
meningkat. Jaundice sendiri bukan merupakan sebuah penyakit,
melainkan suatu kondisi yang muncul sebagai tanda atau gejala yang mendasari
penyakit tertentu.
Faktor Risiko Penyakit Kuning
Faktor risiko terjadinya jaundice itu
sendiri kembali bergantung pada penyakit yang mendasarinya. Beberapa penyakit
seperti thalasemia dan penyakit sel darah C merupakan penyakit yang
didapatkan sejak lahir dan memiliki kaitan yang erat dengan
genetika. Penyakit infeksi lain, seperti hepatitis A, hepatitis B, dan
hepatitis C juga bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit kuning.
Penyebab
Penyakit Kuning
Penyebab terjadinya jaundice dapat
dibagi berdasarkan tiga golongan besar, yaitu masalah pada pre-produksi dari bilirubin
(pre-hepatik), masalah pada proses produksi bilirubin (hepatik), atau
setelah bilirubin selesai diproduksi (post-hepatik).
1. Masalah pada Pre-Produksi (Pre-Hepatik)
Masalah ketika terjadinya peningkatan bilirubin
diakibatkan karena pemecahan sel darah merah berlebihan di dalam pembuluh
darah.
a) Thalasemia,
Suatu kondisi dimana kelainan darah ketika sel darah merah yang terbentuk tidak
sempurna, sehingga mudah hancur.
b) Penyakit
sel darah C, Suatu kondisi dimana kelainan darah ketika bentuk keping darah
yang seharusnya berbentuk bulan justru memiliki bentuk yang menyerupai bulan
sabit (C). Hal itu berdampak pada kinerja sel darah merah yang tidak sempurna.
c) Malaria.
2. Masalah pada Produksi (Hepatik)
a) Infeksi
virus, seperti hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, dan infeksi
virus Epstein-Barr.
b) Alkohol.
c) Terjadinya
penyakit sirosis pada hepar atau berubahnya struktur hepar
menjadi keras dan sudah tidak bisa berfungsi secara normal.
d) Kanker,
Merupakan sebuah keganasan pada hepar.
3. Masalah pada Post-Produksi (Post-Hepatik)
a) Batu
empedu, Adanya batu empedu yang menyumbat saluran empedu membuat bilirubin yang
sudah diproduksi terperangkap di dalam kantung empedu dan tidak dapat keluar.
b) Infeksi
atau radang pada kantung empedu.
c) Pankreatitis,
Infeksi atau peradangan pada pankreas.
d) Kanker
kantung empedu.
Gejala
Penyakit Kuning
Gejala yang dapat muncul selain perubahan
kulit, mukosa membran dan mata bergantung dari penyakit yang
mendasarinya. Namun, beberapa hal berikut dapat ditemukan di pasien, seperti :
a) Air
kencing atau Urine dengan warna kecokelatan seperti air teh
b) Warna
feses yang terang atau bisa menyerupai warna dempul
c) Nyeri
atau rasa tidak nyaman di perut
d) Demam.
Dapat terjadi terutama jika penyakit yang mendasari adalah suatu infeksi, dan
e) Mual
dan muntah juga dapat terjadi.
Penderita penyakit kuning, kulit, mata,
dan lapisan dalam mulut atau hidungnya akan kelihatan kekuningan. Selain itu
penderita penyakit kuning biasanya akan mengeluarkan feses berwarna seperti
dempul dan urine yang berwarna seperti teh. Ada juga berbagai gejala lain
seperti demam dan nyeri otot.
Diagnosis
Penyakit Kuning
Diagnosis dapat diambil dengan cara anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Kemudian, pemeriksaan penunjang lainnya yang dilakukan
untuk mengetahui dengan pasti adalah mengecek kadar bilirubin dalam
darah atau bisa juga dengan mengambil diagnosa pasti, guna mengurangi kepastian
dengan kemungkinan diagnosa penyakit yang lainnya.
Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan, antara lain:
a) Pemeriksaan
laboratorium darah. Melalui lab darah, selain kadar bilirubin yang dapat
diperiksa, dokter juga dapat memeriksa hal lainnya seperti antibodi terhadap
virus hepatitis A, hepatitis B, maupun hepatitis C. Kadar
kolesterol, tumor marker (cancer), fungsi hepar, dan
elektroforesis (untuk thalasemia) juga dapat diperiksa melalui laboratorium
darah.
b) Pemeriksaan
apusan darah tepi. Digunakan untuk melihat bentuk dan ukuran dari sel darah
serta adanya sel-sel darah dalam bentuk lain sebagai indikator suatu diagnosis.
c) Ultrasonografi
abdomen dapat digunakan sebagai pemeriksaan lebih jelas organ-organ rongga
abdomen, seperti hepar, kantung empedu, dan pankreas.
d) Biopsi,
Jika penyebab terjadinya jaundice dicurigai karena suatu keganasan, biopsi bisa
dilakukan sebagai langkah diagnosis.
Pengobatan
Penyakit Kuning
Pengobatan terhadap penyakit kuning
atau jaundice tergantung pada penyakit yang
mendasarinya. Pada kondisi pasien dengan thalasemia dan penyakit darah
bulan sabit (C), perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan dokter yang akan
menentukan terapi selanjutnya, seperti transfusi darah atau yang lainnya.
Pada infeksi hepatitis A, karena
merupakan sebuah infeksi yang dapat sembuh dengan sendirinya, pasien hanya
memerlukan terapi suportif, tirah baring, banyak minum air, dan tidak
memerlukan antibiotik karena penyebabnya adalah virus.
Berbeda dengan infeksi hepatitis C yang
sudah ada obatnya, sebenarnya infeksi hepatitis B masih sangat sulit
diobati, berbagai penelitian masih dilakukan, tetapi sampai saat ini belum ada
obat yang dapat dengan pasti menyembuhkan penyakit hepatitis B ini.
Penyakit sirosis hepar merupakan
komplikasi akibat hepatitis C. Setelah pengidap jatuh dalam kondisi ini, maka
satu-satunya terapi definitif yang dapat dilakukan adalah transplantasi organ
hepar. Namun, transplantasi hepar sangat sulit dilakukan juga sangat mahal dan
terapi lainnya hanya berupa terapi pendukung kelancaran kesehatan.
Pembedahan dapat dilakukan bagi pengidap
keganasan (kanker) dengan melakukan pengangkatan pada tumor maupun organ –
organ yang menyangkut. Pengiap dengan batu empedu juga dapat mengambil cara
lain, yaitu pembedahan untuk mengangkat seluruh kantung empedu dan juga dengan
batu - batunya.
Dokter akan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin dalam darah pasien,
kemudian melakukan beberapa tes tambahan seperti tes darah, tes urine, tes
pemindaian, dan biopsi hati untuk mencari tahu penyebab penyakit kuning
tersebut.
Pengobatan penyakit kuning tergantung kepada penyebab yang mendasarinya.
Pengobatan penyakit kuning dibagi menjadi tiga, yaitu:
a) Pengobatan pre-hepatic,
untuk mencegah sel darah merah hancur terlalu banyak atau cepat, sehingga
penumpukan bilirubin dapat dihindari.
b) Pengobatan intra-hepatic, untuk
memperbaiki kerusakan hati, dan mencegah meluasnya kerusakan pada organ
tersebut.
c) Pengobatan post hepatic, untuk
menghilangkan sumbatan di dalam saluran empedu dan pankreas.
Penyakit kuning dapat dicegah. Baik dengan mendapatkan vaksinasi hepatitis
A dan B, meminum obat pencegah penyakit malaria, membatasi konsumsi minuman
alkohol, berhenti merokok dan lain sebagainya.
Pencegahan
Penyakit Kuning
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan
juga tergantung dari penyakit apa yang mendasari kondisi dari jaundice ini.
Umumnya, pre marital check up sebelum
menikah dan konseling pra-nikah bisa dilakukan untuk mencegah beragam penyakit,
apalagi penyakit bawaan atau yang berhubungan dengan genetika.
Penyakit - penyakit yang disebabkan oleh
infeksi juga dapat dicegah dengan vaksinasi dan dengan memodifikasi gaya hidup
agar memiliki gaya hidup yang bersih dan sehat. Gaya hidup perlu diatur dari
pola makan, kebiasaan berolahraga teratur, tidak merokok, menghindari narkoba,
serta menghindari tato pada kulit dan piercing.
