Kita semua tolong jangan sepele dengan penyakit stroke. Penyakit
ini dikenal sebagai penyakit mematikan, dikarenakan
penyakit ini sangat berbahaya dan bisa membunuh secara diam - diam akibat
kelumpuhan otak, atau bisa juga dibilang ini adalah penyakit yang bisa membunuh
secara instan. Kalau tidak menyebabkan kematian, stroke di usia bisa membawa
dampak kecacatan bagi pengidapnya.
Terapi pasca stroke merupakan bagian dari perawatan
penyakit yang penting didapatkan oleh penderita stroke. Latihan – latihan bergerak
dapat yang dilakukan dalam terapi pasca stroke bisa membantu mereka menjalani
rutinitas sehari-hari secara mandiri, dan membantu menjaga fungsi otak yang
masih dapat dipertahankan.
Stroke merupakan kondisi serius yang
terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah atau aliran darah ke bagian otak terhalang oleh pembekuan
darah. Orang yang pernah terserang stroke sering kali mengalami penurunan
fungsi otak, yang bisa berupa gangguan dalam berbicara, mengingat, bergerak,
dan lain sebagainya. Mengembalikan kemampuan tubuh setelah terserang stroke
merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan komitmen.
Sebagian dari kita mungkin tak asing dengan stroke, tetapi
bagaimana dengan stroke ringan? Meski menyandang kata “ringan”, stroke ringan
tak boleh diabaikan atau disepelekan juga. Sebab, bisa menimbulkan dampak
serius di kemudian hari.
Pertanyaannya, lantas bagaimana sih cara kita
mengatasi stroke ringan?
Awasi Gejala yang Menyerang Tiba-Tiba
Sebelum mengetahui cara mengatasi stroke ringan, tak ada ada salahnya untuk
berkenalan dulu dengan gejalanya. Gejala stroke ringan kebanyakan terjadi
secara tiba-tiba. Boleh dibilang gejala stroke ringan atau TIA hampir serupa
dengan stroke.
Bedanya gejala stroke ringan hanya berlangsung beberapa menit
dan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan jam. Lalu, seperti apa sih
gejala stroke ringan yang umumnya dialami oleh pengidapnya?
Nah, berikut beberapa gejalanya menurut ahli, yaitu :
- Perubahan
pada indra, seperti pendengaran, penglihatan, rasa, dan sentuhan.
- Perubahan
kewaspadaan, termasuk kantuk atau tidak sadar.
- Perubahan
mental, seperti kebingungan, kehilangan ingatan, kesulitan menulis atau
membaca, kesulitan berbicara, atau memahami orang lain.
- Masalah
otot, contohnya kelemahan otot, kesulitan menelan, atau kesulitan
berjalan.
- Pusing
atau kehilangan keseimbangan dan koordinasi.
- Kurangnya
kontrol atas kandung kemih atau usus.
- Masalah
saraf, seperti mati rasa atau kesemutan pada satu sisi
Perubahan Gaya Hidup sampai
Operasi
Cara untuk mengatasi stroke ringan beragam. Penanganannya pada
pengidapnya berebeda-beda, bergantun pada usia, penyebab stroke, dan kondisi
medis pengidapnya. Penanganan stroke ringan ini bertujuan untuk mengobati
gangguan yang memicu stroke ringan dan mencegah risiko terjadinya stroke yang
lebih parah.
Lalu, seperti apa metode atau cara mengatasi
stroke ringan?
a) Perubahan
Gaya Hidup
Menurut ahli, pengidap stroke ringan akan didorong untuk
melakukan perubahan gaya hidup. Tujuannya jelas, yaitu untuk mengurangi risiko
berkembangnya gejala stroke ringan. Perubahan gaya hidup ini mencakup berhenti
merokok, rutin berolahraga, dan megonsumsi makanan sehat atau bergizi
seimbang.
b) Konsumsi
Obat-obatan
Konsumsi atau terapi obat-obatan bertujuan untuk mengurangi
risiko stroke permanen akibat stroke ringan. Obat - obatan yang diberikan
seperti obat pengencer darah, misalnya aspirin atau obat- obatan lainnya, untuk
mengurangi pembekuan darah. Di samping itu, ada pula obat antihipertensi, obat
statin, atau obat antikoagulan yang mungkin diberikan oleh dokter atau perawat.
c) Menyingkirkan
Infeksi
Menurut ahli, beberapa penyebab stroke ringan hanya bisa
terlihat lewat pemeriksaan atau peralatan khusus di rumah sakit. Ketika stroke
ringan terjadi pada orang muda tanpa faktor risiko yang jelas, mereka mungkin
dikirim ke ahli saraf untuk menelisik kondisinya lebih jauh.
Ahli saraf nantinya akan melakukan tindakan
ketika penyebabnya sudah diketahui. Misalnya, menyingkirkan vasculitis
(peradangan pada pembuluh darah), diseksi arteri karotis, atau infeksi lainnya.
d) Operasi
Cara mengatasi stroke ringan juga bisa melalui operasi. Operasi
ini biasanya dilakukan pada mereka yang mengalami penyumbatan arteri leher.
Prosedur ini disebut dengan endarterektomi.
Waktu yang dirasa tepat untuk segera memulai terapi
pasca stroke adalah 24 - 48 jam setelah serangan, asalkan kondisi penderitanya
sudah stabil. Dalam periode tersebut, penyedia layanan kesehatan akan membantu
pasien terapi pasca stroke bergerak di tempat tidur. Fungsinya adalah
memperkuat anggota gerak tubuh pasien, sehingga membantu pasien stroke untuk
mampu merawat diri sendiri dan kembali melakukan aktivitas secara mandiri.
Namun, terapi pasca stroke sebaiknya dimulai sesuai dengan anjuran dokter
dengan mempertimbangkan kondisi pasien.
Rehabilitasi atau terapi stroke tidak dapat
menyembuhkan kerusakan yang disebabkan oleh stroke. Untungnya, otak manusia
mampu beradaptasi dengan cepat dan baik jadi seiring berjalannya waktu, bagian otak yang berbeda
dapat mengambil alih peran bagian otak lain. Sel-sel otak tertentu pun dapat
pulih dari kerusakan sementara.
Macam-macam Terapi Pasca Stroke
Rehabilitasi atau terapi
pasca stroke bertujuan untuk membantu pasien stroke mempelajari kembali
kemampuan atau keterampilan yang hilang dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Jenis dan derajat penurunan kemampuan yang dialami
oleh pasien stroke bisa saja berbeda-beda. Terapi pasca stroke yang dilakukan
pun sudah pasti tidak sama dan harus sesuai anjuran dokter atau terapis.
Berikut adalah contoh bentuk-bentuk latihan yang biasa diberikan kepada pasien
terapi pasca stroke.
Terapi stroke berperan penting dalam menjaga kondisi
penderita stroke agar tetap baik dan membantu mencegah disabilitas lebih
lanjut. Kerusakan otak akibat stroke bisa menyebar dan menjadi masalah
jangka panjang. Agar kualitas hidup penderita stroke dapat meningkat,
maka diperlukan terapi stroke.
Stroke bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelumpuhan
atau berkurangnya kemampuan fungsi tubuh. Meski ada yang bisa pulih sepenuhnya
dalam waktu singkat, tapi umumnya penderita stroke membutuhkan dukungan medis
dan psikologis dalam jangka waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan fungsi
tubuhnya agar bisa lebih mandiri.
a. Terapi memori
Banyak atau sedikitnya memori yang hilang setelah stroke tergantung pada
usia, tingkat keparahan stroke, letak terjadinya stroke, dan kondisi kesehatan
penderita sebelum terserang stroke. Ingatan yang hilang pada penderita stroke
dapat diperoleh kembali dengan beberapa caranya, yaitu seperti berikut :
ü Menstimulasi otak
dengan permainan
mengasah otak.
ü Menempelkan tulisan di
tempat tertentu, contohya “jangan lupa sikat gigi” di kamar mandi sebagai
pengingat.
ü Melatih ingatan dengan
akronim yaitu singkatan dari beberapa kata atau kata-kata berima sama.
ü Meletakkan benda-benda
di tempat yang sudah pasti akan Anda lihat. Contohnya, meletakkan pakaian yang
akan digunakan untuk esok hari di tempat tidur.
ü Mengulangi informasi
yang didapat berulang kali, atau menggunakan alat perekam.
ü Bergerak sesering
mungkin.
ü Mengonsumsi makanan
yang bermanfaat bagi otak seperti asam lemak omega-3.
ü Berbicara dengan
keluarga dan teman.
ü Bertemu orang lain
dengan penderitaan yang sama.
ü Tulis hal-hal apa saja
yang harus dilakukan.
b. Terapi gerakan
Merupakan salah satu bentuk fisioterapi stroke standar
yang penting. Penelitian mengungkapkan bahwa terapi gerakan seperti treadmill,
olahraga keseimbangan, dan mengangkat beban, terbukti meningkatkan kemampuan
berjalan penderita stroke setelah satu tahun berlatih. Kualitas hidup semakin
meningkat terlepas dari seberapa parah stroke yang diderita.
Selain itu, terapi gerakan juga dapat dilakukan dengan cara :
ü Selalu mengganti posisi tidur atau duduk untuk
memperbaiki postur dan keseimbangan dibantu oleh terapis, agar otot dan sendi
tidak kaku.
ü Jika sudah menunjukkan
peningkatan, terapis bisa meminta pasien terapi pasca stroke untuk
bergerak-gerak di tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi, mengulangi
posisi duduk dan berdiri.
ü Berlatih menggerakkan
tangan dan kaki (dengan atau tanpa bantuan benda-benda), tentunya didampingi
oleh terapis atau dokter.
- Terapi bicara
Setelah terkena stroke, gangguan bicara merupakan salah satu dampak yang dapat terjadi. Terapi bicara merupakan salah satu bagian dari terapi pasca stroke yang dapat dilakukan untuk membantu pasien stroke melatih kemampuan bicara, serta melatih otot-otot menelan dan berbicara agar kembali berfungsi. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih kemampuan bicara pasca stroke adalah :
ü Pertama, terapis akan
membantu pasien dapat menelan. Misalnya dengan meminta pasien menelan 50 ml
air.
ü Kemudian terapis akan
menilai kemampuan umum pasien untuk berkomunikasi. Misalnya, dengan menilai seberapa
baik pasien memahami kata atau kalimat, seberapa sulit pasien mengekspresikan
diri, dan lain-lain.
ü Teknik yang terapis
gunakan untuk membantu kesulitan komunikasi pasien stroke tergantung pada
seberapa besar masalah yang dialami.
ü Jika pasien sulit
memahami arti kata-kata, terapis dapat meminta pasien untuk mencocokkan kata
dengan gambar, mengurutkan kata sesuai dengan makna, dan menentukan kata-kata
yang memiliki makna yang sama.
ü Jika kesulitan
menemukan kata yang ingin dikatakan, pasien diminta untuk berlatih menamakan
benda-benda, berlatih kata-kata berima, atau mengulangi kata-kata yang terapis
ujarkan.
ü Melatih kekuatan otot
mulut, memberi arahan mengucapkan suatu kata atau huruf.
ü Berlatih kemampuan
merangkai kata-kata.
ü Berlatih kemampuan
membaca dan menulis.
d.
Terapi fisik
Serangan stroke bisa memperlemah otot-otot pada tubuh
penderitanya. Hal ini membuat tubuh dan sendi susah bergerak. Efeknya
koordinasi dan gerakan tubuh jadi berkurang sekaligus susah melakukan aktivitas
fisik seperti berjalan dan berdiri.
Terapi fisik membantu memperkuat otot tubuh dan melatih
penderita stroke untuk bisa kembali beraktivitas setelah mengalami kerusakan
otak. Terapi fisik atau fisioterapi adalah terapi yang dilakukan oleh dokter spesialis
fisioterapi dan terapis, yang terlebih dahulu akan mengevaluasi masalah fisik
pasien. Jika masalah fisik yang diderita terlalu parah, maka bisa dibantu
dengan alat untuk mendukung pemulihan dari gangguan pergerakan tubuh pasien.
ü Terapi
bicara dan bahasa
Salah satu akibat dari stroke adalah hilang atau turunnya
kemampuan berbicara. Gangguan bicara akibat stroke bisa meliputi menurunnya
kemampuan bicara secara keseluruhan, tidak bisa memakai kata yang tepat, atau
tidak mampu menyelesaikan kalimat.
Stroke juga bisa merusak otot yang mengontrol kemampuan berbicara
penderitanya. Terapi stroke untuk gangguan ini bisa dilakukan oleh terapis
bicara dan bahasa, yang akan melatih pasien berbicara dengan jelas dan runtut.
Jika gangguan terlalu parah, maka terapi stroke yang dilakukan adalah mencari
cara berkomunikasi selain berbicara.
ü Terapi
okupasi
Terapi okupasi adalah rehabilitasi yang membantu seseorang
mendapatkan kembali, mengembangkan, dan membangun keterampilan yang penting,
terkait kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Pasien akan dilatih sesuai
keperluannya, misalnya cara mengancingkan baju dan menggosok gigi.
Terapi okupasi bisa dilakukan bersama dengan terapi bicara dan
bahasa, untuk melatih kemampuan kognitif seseorang yang terkena stroke.
Kemampuan kognitif yang bisa terganggu akibat stroke antara lain menurunnya
kemampuan berpikir, penalaran, ketidakmampuan melakukan penilaian, dan masalah
ingatan.
ü Terapi
rekreasi dan terapi psikologi
Terapi rekreasi bisa diberikan untuk pasien pascastroke agar
mencintai kembali apa yang dahulu ia sering lakukan, misalnya memelihara hewan
peliharaan, atau membuat kerajinan tangan dan barang seni, tergantung pada
minat penderita.
Terapi psikologi atau psikoterapi dibutuhkan untuk
memperbaiki kondisi mental seseorang yang terkena serangan stroke. Hanya saja,
kondisi yang tidak lagi seperti sediakala rentan menumbuhkan rasa depresi dan
gangguan emosi pada penderitanya. Salah satu bentuk paling umum adalah menarik
diri dari aktivitas sosial dan putus harapan akan kesembuhan.
Terapi Alternatif
Selain terapi
stroke di atas, beberapa terapi berikut bisa dijadikan alternatif untuk pasien
pascastroke. Namun, selalu konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu karena
langkah-langkah berikut belum terbukti sepenuhnya dapat membantu pemulihan
pasca stroke secara signifikan.
ü Akupunktur
Terapi menggunakan jarum khusus yang ditusukkan ke permukaan
kulit ini sudah populer di Asia sejak berabad-abad lamanya. Terapi akupunktur diklaim
bisa membantu mengurangi rasa sakit, kelumpuhan, dan masalah otot akibat
stroke.
ü Pijat
Pijat adalah terapi yang sangat umum untuk penderita stroke.
Pijat dapat membantu memperbaiki suasana hati, menurunkan tekanan darah,
mengurangi kecemasan, dan membuat tubuh serta pikiran lebih santai. Selain itu,
juga dapat membantu masalah otot dengan meningkatkan aliran darah ke daerah
yang terkena gangguan.
ü Yoga
Yoga dapat membantu memperbaiki kualitas hidup pasien pasca
stroke melalui olah napas dan gerakan lambatnya. Yoga juga membantu pasien
meningkatkan fokus mental yang hilang akibat stroke. Olahraga ini adalah
pilihan bijak untuk penderita stroke, mengingat olahraga ini minim benturan dan
risiko cedera.
ü Aromaterapi
Aromaterapi yaitu memanfaatkan aroma tertentu untuk
membantu orang menjadi lebih rileks dan mengurangi rasa sakit. Rosemary,
lavender, dan peppermint adalah aroma yang umum dipakai oleh mereka yang
kesehatannya bermasalah akibat stroke.
ü Pengobatan
herbal
Beberapa obat herba mengklaim mampu memperbaiki sirkulasi darah
ke otak sekaligus meningkatkan fungsinya. Ada juga yang mengklaim sanggup
menghindarkan seseorang dari serangan stroke lanjutan. Tapi, sebaiknya
konsultasikan dahulu dengan dokter jika ingin menggunakan herba apapun sebagai
pengobatan alternatif stroke.
Durasi terapi pasca stroke sangat bergantung pada
tingkat keparahan dan komplikasi stroke, serta respon pasien terhadap terapi.
Karena itu, penting bagi pasien dan keluarganya untuk mendiskusikan
kepada dokter dan terapis,
terkait penentuan jenis terapi pasca stroke yang tepat.


